3 Tahun Tak Singgah di Bandung

Rakhmad Permana
1 min readDec 13, 2022

Sudah dua hari belakangan ini linimasa Twitter dipenuhi oleh cuitan keluhan warga soal transportasi publik di Bandung. Konon, Bandung, sejak dulu tak pernah mengalami kemajuan di bidang transportasi publik. Hal ini dibuktikan dengan foto-foto tentang halte yang kumuh, bus yang mangkrak dan kemacetan kota kembang yang makin parah itu.

Ketika daerah-daerah lain sudah berinisiatif merintis fasilitas transportasi publik yang baik, Bandung justru jalan di tempat — untuk tidak mengatakannya mundur. Banyak pula yang membandingkan Bandung dengan kota-kota seperti Solo dan Semarang. Dari keramaian ini, walikota dan gubernur dituding tidak peduli. Saya sendiri tidak tahu apakah keluhan-keluhan ini valid. Karena memang sudah tiga tahun saya tak singgah di kota itu.

Jika itu benar yang terjadi di Bandung, maka ini justru sangat terbalik dengan apa yang saya rasakan di Jakarta. KRL yang nyaman, TransJakarta yang makin terintegrasi hingga MRT yang cepat dan mewah.

Agaknya ini juga sesuatu yang memilukan bagi saya. Karena Bandung adalah kota yang saya sukai. Banyak kenangan yang beredar di kota itu. Kota yang kerap digambarkan penuh melankoli itu punya jejak personal dalam ingatan saya. Terlepas dari kemacetan dan lintangpukangnya tata kota, Bandung adalah kota yang mempertemukan saya pada banyak hal. Impian, jodoh dan buku.

Tiga tahun saya tak singgah di sana. Tapi saya ingin mengunjungi kota itu lagi sebelum Pemilu 2024. Semoga para pembesarnya tahu artinya ‘berbenah diri’.

--

--

Rakhmad Permana

Lelaki yang percaya bahwa tidur adalah nikmat surga yang lain.