Andaikan Aku Pelompat Waktu

Rakhmad Permana
2 min readFeb 15, 2024

Apa yang kamu lakukan ketika hidupmu terasa begitu berat? Apakah kamu pernah memakai cara ini: duduk di atas closet, menutup matamu dan kemudian membayangkan dirimu melompati waktu?

Jika pernah, berarti kita sama. Itulah hal receh-absurd-nggak jelas-ngayal yang aku lakukan ketika hidup terasa berat.

Jika ingatanku tak berkhianat, aku melakukannya ketika SMP. Saat menjelang ujian nasional. Pas kebetulan, toilet di rumah orang tuaku sudah berganti jadi closet duduk. Jadi momen-momen berak jadi terasa lebih magis. Jadi, waktu itu aku pernah menghadapi tekanan yang tergolong berat untuk bocah kelas 3 SMP. Apalagi kalau bukan ujian kelulusan. Bukan sekadar lulus, tapi aku juga menuntut diriku sendiri agar masuk SMA Negeri favorit.

Closet duduk (Sumber: Pexel)

Nah, dari sinilah kepikiran ide itu. Duduk di closet, memejamkan mata dan membayangkan diri melompati waktu, pergi ke masa depan. Menuju ke diriku yang mungkin sudah duduk di bangku kuliah. Ternyata sial. Setelah membuka mata, ternyata aku masihlah bocah SMP biasa.

Hal serupa terus aku lakukan di fase-fase hidupku. Saat lulus SMA dan gagal masuk PTN, saat menganggur dan tak tahu harus melamar pekerjaan kemana lagi. Hingga saat tekanan pekerjaan bisa begitu menekan mentalku. Ringkasnya, duduk di atas closet lalu membayangkan diri sebagai pelompat waktu adalah caraku bertahan dalam titik nadir hidupku.

Dan aku baru sadar, mungkin inilah yang membuatku menyukai film atau anime bertema perjalanan waktu. Waktu SD, jelas aku suka sekali dengan sinetron Lorong Waktu.

Kemudian saat kuliah, aku suka dengan anime Boku dake ga Inai Machi atau Erased. Ceritanya tentang seorang komikus (gagal) bernama Satoru yang kembali ke dirinya saat masih SD. Dia memiliki misi untuk menyelamatkan temannya yang menjadi korban pembunuhan seorang psikopat. Satoru ingin memperbaiki masa lalunya yang murung itu. Ide serupa juga aku temukan di anime Tokyo Revengers, salah satu anime favoritku. Tokyo Revengers juga mengisahkan seorang pelompat waktu. Tokoh utamanya adalah pemuda penjaga toko kaset bernama Takemichi. Takemichi awalnya hanya tampak seorang pecundang dan tak punya gairah hidup. Tapi hidupnya berubah ketika dia sadar bahwa dirinya merupakan pelompat waktu. Takemichi pergi ke masa lalu untuk mencoba menyunting takdir kematian pacarnya, Tachibana Hinata. Pacarnya mati karena bentrokan antar geng.

Meskipun sampai saat ini, mesin waktu atau kemampuan melompati waktu ini belum bisa dibuktikan benar-benar ada secara saintifik, aku masih membayangkannya.

Barangkali, cara seperti ini juga cukup berguna untuk kalian yang saat ini sedang menghadapi hal-hal berat, misalnya menghadapi kenyataan yang baru saja terjadi terhadap negeri tercinta kita ini.

Kenyataan harus dihadapi. Tapi tak masalah jika kamu mencoba untuk duduk di atas closet, memejamkan mata dan membayangkan dirimu pergi ke Indonesia di tahun 2029. Setelah kamu membuka matamu, kenyataan itu tidak berubah. Namun yakinlah, rasanya akan lebih enteng…

--

--

Rakhmad Permana

Lelaki yang percaya bahwa tidur adalah nikmat surga yang lain.