Buku Terbaik 2022?

Rakhmad Permana
3 min readDec 30, 2022

Biasanya di setiap penghujung tahun saya membagikan daftar buku-buku terbaik yang saya baca di tahun tersebut. Saya memunguti setiap cover buku dan menjadikannya dalam satu kolase, atau hanya memotret tumpukan buku itu dengan penuh kebanggaan, lalu mengunggahnya di Facebook. Sayangnya, tahun ini saya tak bakal melakukan ‘ritual akhir tahun’ itu. Bukan karena tidak ada buku terbaik, tetapi lebih karena tahun ini saya membaca dengan sangat lambat. Target bacaan saya ambruk di tahun 2022.

Kupotret malam-malam.

Padahal, tahun 2022 begitu semarak dengan buku-buku baru yang terus diterbitkan oleh berbagai penerbit. Salah satunya yang menarik minat saya adalah novel pemenang sayembara DKJ 2021: Kereta Semar Lembu (KSL) karya Zaky Yamani. Saya baru membaca seperempat isi novel itu. Sialnya, meskipun gaya bercerita Zaky Yamani di KSL begitu asyik dan kaya akan wawasan sejarah Indonesia era kolonial, minat baca saya tiba-tiba saja mandeg. Buku itu belum juga selesai saya baca meskipun 2022 akan segera habis.

Dan KSL hanya satu dari sekian buku yang masih jadi ‘proyek mangkrak’ bacaan saya.

Lantas, apakah ada satu buku yang saya tuntaskan tahun ini dan saya suka? Ada. Sebuah kumpulan esai personal yang ditulis oleh John Green, judulnya The Anthropocene Reviewed (TAR).

Unik kan? John Green, yang sohor sebagai novelis young adult best seller seperti The Fault in Our Stars, itu ternyata jago menulis esai yang tajam. Meskipun sebetulnya esai-esai ini merupakan alih wahana dari Podcast berjudul sama.

TAR mulanya lahir dari kegelisahan John Green saat Corona benar-benar membikin dunia ini lumpuh. Green mencoba kembali mempertanyakan makna keberadaan manusia di bumi ini. Agak terdengar seperti pertanyaan eksistensialis.

Ia mengajak pembaca mengingat suatu masa di mana manusia bisa begitu dominan pada suatu zaman. Karena dominasi inilah manusia seolah menjadi manusia yang berhak mereview apa pun.

Dari kegelisahan tersebut, Green pun berusaha kembali mengenang apa-apa yang membentuk presepsi dan dirinya hingga menjadi seperti sekarang. Dari pengalaman masuk museum, soal ketakutan akan kiamat, minuman manis sampai soal keimutan beruang. Setiap kali membahas satu objek tertentu, ia tak lupa memberi review skala lima bintang bak pengunjung hotel yang memberi ulasan di Google. Cara menulis esai yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Hal yang paling menarik adalah, semua topik yang ia bahas hampir selalu lengkap dengan trivia yang baru saya tahu. Misalnya, saya baru tahu kalua Teddy Bear lahir dari wajah melas beruang yang ditangkap oleh Presiden Amerika Theodore Roosevelt. Saya juga baru tahu bahwa di Amerika ada minuman semanis gula tetapi tanpa gula. Walaupun buku ini sangat Amerika sekali — seperti buku-buku nonfiksi terjemahan pada umum, saya merasa Green berbicara tentang yang universal. Keterpesonaan manusia kepada banyak hal.

Green mengajak pembacanya untuk membenturkan diri kepada banyak hal yang tadinya kita anggap remeh. Pengamatan-pengamatan yang kerap kita abaikan dan biarkan mengalir tertelan waktu.

Buku ini membuat saya sadar, ternyata hidup ini ada gunanya. Barangkali hidup memang tidak ada tujuannya. Tapi buku ini mengingatkan saya bahwa ketakjuban pada segala hal yang mengitari hidup ini akan membuat kita mabuk dalam kebahagiaan. Ya, buku ini membahagiakan.

Jadi, jika ada yang bertanya buku terbaik yang saya baca tahun ini, saya akan menjawabnya dengan gelengan kepala. Namun ketika ditanya buku apa yang membahagiakan, saya akan mengambil The Anthropocene Reviewed dari rak buku saya yang penuh dengan proyek mangkrak itu.

--

--

Rakhmad Permana

Lelaki yang percaya bahwa tidur adalah nikmat surga yang lain.