Keriuhan Piala Dunia Mewarnai Hidup

Rakhmad Permana
3 min readNov 29, 2022
Sumbar: Bola

Saya ingat betul ajang piala dunia pertama yang saya simak: Piala Dunia 2002 di Korea-Jepang. Itu juga momen pertama saya ikut judi bola. Saya bertaruh untuk kemenangan Senegal atas Prancis dengan uang taruhan seribu perak. Tapi hasilnya seri karena saya memberi pur 1/2 untuk lawan taruhan. Tentu ini bukan hal yang patut dicontoh.

Namun, setidaknya, sejak saat itu saya benar-benar sadar bahwa sepakbola mewarnai hidup saya. Keriuhan piala dunia membuat hidup kian semarak.

Ajang empat tahunan sekali ini terus saya ikuti. 2002, 2006, 2010, 2014, 2018 dan kini 2022.

Piala Dunia 2002 cukup berkesan pada masa kecil saya. Ronaldo dan tim sambanya mampu memaksa bocah SD seperti saya untuk terus menyimak kabar-kabar terbaru seputar piala dunia di Koran Jawa Pos. Belum lagi potongan rambut gundul segitiga Ronaldo terlampau ikonik untuk dilupakan. Ronaldo jadi pesaing berat Michael Ballack yang absen karena kartu merah di laga final Brazil vs Jerman.

Selanjutnya Piala Dunia 2006. Ingatan saya soal piala dunia ini cukup samar. Saya hanya ingat bahwa Piala Dunia ini menjadi debut Lionel Messi. Remaja yang ketika itu memang sudah digadang-gadang sebagai titisan Maradona. Sekarang Messi bukan lagi titisan Maradona, ia adalah titisan Messi itu sendiri.

Kemudian Piala Dunia 2010. Yang paling terngiang-ngiang dari piala dunia ini adalah lagunya. Waka waka yang didendangkan oleh Shakira, menurut saya, menjadi lagu piala dunia terbaik sejauh ini. Selain itu, penampilan Drogba dan tim Pantai Gading yang mampu menghentikan perang saudara di negaranya juga menjadi bukti bahwa piala dunia bisa menyatukan bangsa yang terbelah.

Sialnya, Piala Dunia 2010 jadi ingatan yang menyebalkan ketika gol Frank Lampard ke gawang Jerman dianulir. Konon, inilah yang menjadi inisiatif penggunaan teknologi Video Assistant Refere (VAR). Penilaian wasit pun makin presisi. Meskipun di satu sisi, sepak bola di hadapan VAR menjadi makin mekanis dan terkadang menyebalkan. Bayangkan ketika seorang pemain sudah melakukan selebrasi gol, tiba-tiba golnya dianulir karena offside atau pelanggaran. Banyak yang menilai VAR justru merusak keindahan sepakbola.

Piala Dunia 2014? Tak banyak yang saya ingat dari gelaran ini. Mungkin soal gol terbang Robin Van Persie yang spektakuler itu.

Lalu Piala Dunia 2018. Yang paling saya ingat adalah bahwa saya menonton laga semifinal hingga final langsung di Studio TransTV yang menjadi Official Broadcaster. Ini pengalaman yang menyenangkan ketika bisa melihat langsung komentator sepakbola mengomentari laga. Piala Dunia 2018 juga menjadi penanda mengapa saya menjadi penggemar Son Heung-min. Son dan tim Korsel mampu memulangkan Jerman lebih cepat lewat kemenangan 2–0.

Dan 2022, barangkali, menjadi piala dunia yang paling berbeda di antara ajang-ajang piala dunia. Inilah piala dunia yang paling politis sejauh ini. Polemik ban kapten one loved LGBTQ+ di Qatar hingga kampanye pembebasan perempuan Iran usai kematian Mahsa Amini.

Piala Dunia 2022 juga dipenuhi dengan hal-hal tak terduga. Harry Maguire ternyata bisa bermain bagus untuk Inggris di tengah kritik atas buruknya perfoma di Manchester United. Gol gunting Richarlison saat Brasil melawan Serbia menggemparkan publik. Ia dianggap tak layak dan dibanding-bandingkan dengan Firmino yang tak masuk skuad tim samba.

Arab Saudi bisa menang melawan Argentina dengan skor 2–1. Padahal kita tahu bahwa pada setiap laga Piala Dunia, tim ini selalu dianggap sebagai tim paling lemah (ingat saat Jerman menumpas Arab Saudi dengan skor 8–0?).

Sumber: Reuters

Tak hanya Saudi, Jepang juga bisa mengalahkan Jerman dengan skor 2–1. Skor kemenangan ini persis seperti mimpi timnas Jepang dalam serial anime legendaris Kapten Tsubasa. Kejutan-kejutan ini terus belanjut pada tim-tim lain. Uniknya, sejauh pengamatan amatir saya, kejutan-kejutan ini tercipta dari taktik serangan balik, bukan penguasaan bola seperti yang dilakukan oleh Spanyol dengan tiki takanya.

Inilah mengapa Piala Dunia 2022 membuat hidup saya belakangan ini menjadi semarak. Piala dunia seperti tetesan warna yang menetes di ritus kehidupan yang menonton. Distraksi yang membuat saya lupa bahwa dunia terkadang tak punya belas kasihan. Ia membuat saya rehat dari gelanggang pertaruhan nasib.

Piala dunia adalah keriuhan yang mewarnai kehidupan.

--

--

Rakhmad Permana

Lelaki yang percaya bahwa tidur adalah nikmat surga yang lain.